Krisis Produksi Padi dan Ancaman Kelaparan
Produksi padi nasional pada Oktober 2025 mencapai 4,72 juta ton GKG, turun 20,67% dari September, dan diproyeksi merosot menjadi 2,47 juta ton pada Desember akibat luas panen menyusut dari 860 ribu ha menjadi 440 ribu ha. Banjir di Sumatra dan serangan hama OPT memperburuk situasi, sementara perubahan iklim memicu krisis air yang menggenangi lahan sawah. Dampaknya, harga beras melonjak, masyarakat kelas bawah kurangi porsi makan, dan impor besar-besaran pukul petani lokal.
Tantangan Petani di Era Digital
Petani Indonesia hadapi biaya produksi tinggi, akses pasar terbatas, dan literasi digital rendah, meski teknologi seperti pertanian presisi bisa tingkatkan efisiensi. Infrastruktur internet pedesaan buruk hambat info cuaca, harga, dan inovasi, sementara ketergantungan rantai distribusi besar buat margin petani tipis. Sektor pertanian serap tenaga kerja terbanyak (naik hingga 0,49 juta orang Agustus 2025), tapi pengangguran struktural tetap tinggi karena kurang skill modern.
Generasi Muda dan Pengangguran Pertanian
Meski tenaga kerja pertanian naik, generasi muda enggan terjun karena citra sektor usang dan minim pelatihan vokasi teknologi. Tingkat pengangguran turun jadi 4,85% Q3 2025, tapi sektor agribisnis butuh lulusan siap kerja untuk swasembada pangan.
Peran Strategis APHTI Banyumas
Akademi Pertanian HKTI Banyumas jawab krisis dengan kurikulum praktik lapangan, inovasi riset pupuk organik, rekayasa lahan, dan pertanian cerdas digital. Kemitraan dengan petani, UMKM, dan industri ciptakan lulusan adaptif seperti alumni Siti Rahmawati yang sukses agribisnis. Fokus pendidikan pelatihan dan pengabdian masyarakat tingkatkan produktivitas daerah Banyumas, kontribusi nyata atasi darurat pangan.
Solusi Inovatif Menuju Pertanian Mandiri
APHTI dorong petani modern via teknologi digital, kolaborasi riset, dan jiwa wirausaha untuk surplus produksi nasional. Bergabunglah sekarang, wujudkan Indonesia merdeka pangan melalui generasi petani cerdas dari Banyumas.


Leave a Reply