Perkembangan terkini di sektor pendidikan tinggi menekankan perlunya Perguruan Tinggi (PT) menjadi “Kampus Berdampak” melalui Hilirisasi Riset. Bagi Akademi Perhotelan dan Pariwisata (APHTI) Banyumas, ini adalah sebuah mandat penting untuk membuktikan bahwa pendidikan vokasi di bidang pariwisata tidak hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga menciptakan ekosistem pariwisata lokal yang tangguh, inovatif, dan berkelanjutan.
Bagaimana APHTI Banyumas, sebagai institusi yang berada di jantung budaya Jawa Tengah, dapat menjadi motor penggerak hilirisasi di sektor pariwisata?
Merumuskan Ulang Konsep “Riset” di Pendidikan Vokasi
Di institusi vokasi seperti APHTI, konsep “Riset” tidak selalu berbentuk jurnal ilmiah murni, melainkan berupa Inovasi Terapan dan Model Bisnis yang Tepat Guna. Hilirisasi berarti inovasi tersebut harus diterapkan, dikomersialkan, atau digunakan langsung oleh industri dan komunitas.
1. Inovasi Menu Lokal (Hilirisasi Gastronomi)
APHTI Banyumas kaya akan potensi kuliner lokal yang unik. Riset di bidang F&B (Food & Beverage) harus dihilirsasikan menjadi produk nyata.
- Contoh Dampak: Penelitian tentang resep kuno Banyumas dapat diubah menjadi Menu Signature yang distandarisasi secara profesional dan diinkubasi untuk diadopsi oleh hotel atau restoran lokal, bahkan dikemas sebagai produk oleh-oleh khas premium. Ini menciptakan multiplier effect bagi petani dan pemasok bahan baku lokal.
2. Digitalisasi Pengalaman Wisata (Hilirisasi Teknologi Pariwisata)
Di era smart tourism, keahlian front office dan ticketing harus berpadu dengan teknologi.
- Contoh Dampak: Mahasiswa dapat merancang dan menguji coba Aplikasi Augmented Reality (AR) yang meningkatkan pengalaman wisatawan saat mengunjungi situs bersejarah di sekitar Banyumas. Aplikasi ini adalah produk hilirisasi riset yang bisa dijual atau dihibahkan kepada Dinas Pariwisata setempat.
🧭 Tiga Fokus APHTI Banyumas Menuju Kampus Berdampak
Untuk memaksimalkan peranannya, APHTI Banyumas perlu menempatkan fokus strategis dalam tiga pilar utama:
1. Pendampingan Desa Wisata Berkelanjutan
APHTI harus menjadi mitra utama dalam pengembangan Desa Wisata di Banyumas Raya. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) diarahkan untuk menghasilkan Model Tata Kelola Desa Wisata yang profesional, dari sisi pelayanan perhotelan (homestay management) hingga pemasaran digital.
Inti Dampak: Meningkatkan length of stay (lama tinggal) dan spending (pengeluaran) wisatawan di tingkat desa, sehingga hasilnya langsung dirasakan oleh komunitas.
2. Inkubasi Bisnis Pariwisata Mahasiswa
Mendorong semangat technopreneurship di kalangan mahasiswa. Hasil tugas akhir atau proyek praktikum harus diinkubasi menjadi start-up rintisan.
- Contoh Implementasi: Membangun Lembaga Inkubator Bisnis Pariwisata di APHTI yang fokus membantu mahasiswa meluncurkan bisnis: agen perjalanan wisata berbasis minat khusus (niche tourism), katering sehat, atau penyedia layanan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) skala kecil.
3. Sertifikasi Global dan Standar Pelayanan Lokal
APHTI berperan penting dalam menghilirkan standar pelayanan global (seperti Hygiene dan Customer Service) ke praktik-praktik industri lokal. Ini memastikan bahwa hotel, restoran, dan homestay di Banyumas memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Penutup: APHTI Sebagai Jembatan Inovasi
Isu Kampus Berdampak adalah panggilan bagi APHTI Banyumas untuk keluar dari batas-batas kelas. Kita tidak lagi hanya mencetak karyawan, melainkan Mencetak Pencipta Lapangan Kerja dan Inovator Ekowisata.
Dengan menggabungkan kurikulum vokasi yang kuat dengan inovasi terapan yang berorientasi hilirisasi, APHTI Banyumas akan menjadi jembatan antara potensi pariwisata lokal yang luar biasa dengan standar profesional global yang dibutuhkan.
Saatnya pariwisata Banyumas bergerak maju, dipimpin oleh hasil inovasi APHTI.


Leave a Reply