Pertanian modern seringkali bergantung pada pupuk dan pestisida kimia yang mahal dan merusak lingkungan jangka panjang. Akademi Pertanian HKTI Banyumas (APHTI Banyumas) mengajarkan mahasiswa kembali ke akar pertanian ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah dan murah: Mikroorganisme Lokal (MOL).
MOL adalah kultur mikroorganisme yang dapat dibuat sendiri dari bahan-bahan organik yang tersedia di sekitar petani (seperti nasi basi, bonggol pisang, atau air cucian beras). Teknologi ini adalah kunci menuju Pertanian Organik, Zero Waste Farming, dan kemandirian petani di Banyumas.
1. Apa Itu Mikroorganisme Lokal (MOL) dan Fungsinya?
MOL adalah cairan yang kaya akan mikroba baik (seperti Azotobacter, Lactobacillus, dan jamur pengurai) yang bertindak sebagai “starter” atau aktivator dalam proses dekomposisi dan penyediaan nutrisi:
- Pupuk Organik Cair (POC): MOL berfungsi mempercepat penguraian bahan organik (pupuk kandang, sisa tanaman) menjadi POC yang siap diserap tanaman. MOL meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi penyerapan nutrisi.
- Biopestisida dan Biofungisida: Beberapa jenis MOL, seperti yang kaya Trichoderma atau Pseudomonas, berfungsi sebagai agen pengendali hayati yang menekan pertumbuhan patogen penyebab penyakit tanaman.
- Pengurai Sampah: MOL sangat efektif dalam mengurai limbah rumah tangga atau limbah pertanian, mengubahnya menjadi kompos atau bokashi dalam waktu yang jauh lebih singkat.
2. Praktik Pembuatan MOL di APHTI Banyumas
Mahasiswa APHTI dilatih secara hands-on untuk membuat berbagai jenis MOL berdasarkan sumber daya lokal yang melimpah di Jawa Tengah:
- MOL Bonggol Pisang: Kaya akan hormon pertumbuhan alami (auksin dan giberelin) yang sangat baik untuk merangsang pertumbuhan akar dan tunas tanaman.
- MOL Nasi Basi (Media Karbohidrat): Kaya akan mikroba yang efisien dalam mengurai gula dan pati, menjadi sumber energi cepat bagi mikroba lain.
- MOL Urin Ternak: Sumber nitrogen yang sangat baik, yang setelah difermentasi dengan MOL dan bahan organik lain dapat mengurangi bau dan meningkatkan kualitas sebagai pupuk cair.
3. Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Penguasaan teknologi MOL memberikan keuntungan ganda bagi lulusan dan petani:
- Biaya Produksi Menurun: Petani tidak perlu membeli inokulan mahal atau pupuk kimia pabrikan, sehingga biaya operasional pertanian turun drastis.
- Kesehatan Tanah Jangka Panjang: Penggunaan MOL meningkatkan struktur tanah, menambah bahan organik, dan memperbaiki ekosistem mikroorganisme tanah, menjamin produktivitas berkelanjutan.
- Sertifikasi Organik: Produk yang dibudidayakan menggunakan MOL dan POC buatan sendiri memiliki peluang besar untuk mendapatkan Sertifikasi Pangan Organik, meningkatkan nilai jual di pasar.
APHTI Banyumas mencetak penyuluh dan agripreneur yang menghargai kearifan alam, menggunakan teknologi sederhana yang berdampak besar pada kemandirian dan keberlanjutan pangan.


Leave a Reply