Tren Pengiriman Makanan (Food Delivery) dan munculnya Dapur Hantu (Ghost Kitchens)—dapur yang hanya melayani pemesanan online tanpa area makan dine-in—telah merevolusi industri Food and Beverage (F&B). Permasalahan hari ini adalah: Meningkatnya risiko terhadap integritas Food Safety dan Hygiene-Sanitation. Kontrol kualitas makanan rentan terhadap risiko kontaminasi selama proses pengemasan, transportasi oleh kurir, dan karena kurangnya pengawasan publik terhadap dapur yang tersembunyi. Pelanggaran standar kebersihan dapat merusak reputasi merek dan membahayakan konsumen.
Akademi Perhotelan dan Pariwisata (APHTI) Banyumas menyadari bahwa standar kebersihan tidak boleh turun meskipun bisnis bergeser ke ranah digital. Kami berkomitmen menghasilkan Manajer F&B yang memiliki kompetensi unik dalam Audit Hygiene-Sanitation Digital, mampu merancang protokol keamanan pangan yang ketat, mulai dari bahan baku hingga makanan tiba di tangan konsumen.
Tiga Kompetensi Utama APHTI dalam Food Safety Digital
APHTI Banyumas melatih mahasiswanya untuk menjadi penjaga gawang keamanan pangan di seluruh rantai pasok delivery:
1. Implementasi dan Audit Hygiene-Sanitation Dapur Tertutup
Standar kebersihan pada Ghost Kitchen harus lebih ketat daripada dapur konvensional.
- Protokol HACCP untuk Delivery: Mahasiswa dilatih merancang dan mengimplementasikan sistem HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) yang disesuaikan untuk bisnis delivery. Ini mencakup identifikasi titik kritis kontaminasi pada proses cooling (pendinginan), pengemasan, dan holding time (waktu tunggu kurir).
- Hygiene-Audit Berbasis Digital: Lulusan dibekali skill menggunakan aplikasi checklist dan sistem pemantauan suhu berbasis IoT untuk melakukan Audit Internal Dapur secara real-time, memastikan kepatuhan karyawan terhadap prosedur mencuci tangan, sanitasi alat, dan kontrol suhu makanan.
2. Manajemen Rantai Dingin dan Integritas Pengiriman
Makanan yang dikirim harus tiba dalam kondisi aman dan utuh.
- Cold Chain Management: Mampu merancang protokol rantai dingin yang tepat untuk makanan yang rentan (misalnya dessert atau produk olahan susu) selama pengiriman. Ini melibatkan penggunaan ice pack yang memadai dan thermal bag kurir.
- Desain Kemasan Tamper-Proof: Lulusan diajarkan pentingnya desain kemasan yang tertutup rapat (tamper-proof) dan mudah diverifikasi oleh konsumen, mencegah kontaminasi atau manipulasi oleh pihak ketiga selama perjalanan.
3. Komunikasi Risiko dan Kepatuhan Regulasi
Profesional F&B harus mampu mengelola krisis keamanan pangan.
- Protokol Penarikan Produk (Recall): Mampu merancang dan mengimplementasikan rencana darurat untuk penarikan produk dengan cepat jika terjadi kasus keracunan makanan, memanfaatkan data delivery untuk mengidentifikasi batch dan lokasi konsumen yang terdampak.
- Edukasi Kurir dan Mitra Delivery: Bidan dilatih untuk mengedukasi mitra kurir tentang pentingnya menjaga integritas makanan selama pengiriman, termasuk larangan meletakkan makanan di dekat sumber panas atau bahan kimia.


Leave a Reply