Manajer Hospitality yang Menguasai Employee Wellness dan Retensi Karyawan

Industri hospitality dan pariwisata dikenal memiliki jam kerja yang panjang, tekanan tinggi, dan gaji yang seringkali dianggap tidak sebanding. Pasca-pandemi, fenomena global seperti The Great Resignation (pengunduran diri massal) dan Quiet Quitting (bekerja hanya sebatas minimum) melanda sektor ini. Permasalahan hari ini adalah: Banyak manajer hospitality yang fokus hanya pada kepuasan tamu (guest satisfaction) dan gagal memprioritaskan kesejahteraan dan keterikatan karyawan (employee wellness dan engagement), menyebabkan tingginya turnover (pergantian karyawan) dan penurunan kualitas layanan jangka panjang.

Akademi Perhotelan dan Pariwisata (APHTI) Banyumas menyadari bahwa aset terpenting hotel adalah sumber daya manusia. Kami berkomitmen menghasilkan Manajer Hospitality yang memiliki kompetensi kuat dalam People Management dan Kesejahteraan Karyawan, mampu menciptakan budaya kerja yang positif, suportif, dan berkelanjutan, sehingga karyawan merasa dihargai, bukan sekadar roda gigi.


Tiga Kompetensi Utama APHTI dalam People Management dan Wellness

APHTI Banyumas mengintegrasikan psikologi kerja dan manajemen SDM modern ke dalam kurikulum inti:

1. Desain Work-Life Balance dan Jadwal Kerja yang Manusiawi

Manajemen harus kreatif dalam menyeimbangkan kebutuhan operasional dan kebutuhan pribadi karyawan.

  • Sistem Penjadwalan Fleksibel: Mahasiswa dilatih merancang sistem rostering dan penjadwalan yang adil dan transparan, meminimalkan overtime yang berlebihan, dan memberikan karyawan waktu istirahat yang memadai.
  • Budaya Boundary Setting: Lulusan dibekali skill untuk menetapkan batasan kerja, misalnya, memastikan komunikasi terkait pekerjaan di luar jam dinas sangat diminimalisir, untuk menghormati waktu pribadi karyawan.

2. Implementasi Program Employee Wellness dan Dukungan Mental

Kesehatan mental karyawan kini menjadi tanggung jawab perusahaan.

  • Mental Health First Aid Dasar: Lulusan dibekali pemahaman dasar tentang tanda-tanda kelelahan mental (burnout) dan stres (yang sering memicu quiet quitting), serta mampu memberikan dukungan emosional awal dan merujuk karyawan ke layanan konseling jika diperlukan.
  • Program Apresiasi Berbasis Kinerja: Mengembangkan program penghargaan dan pengakuan yang tulus dan berkelanjutan, memastikan kerja keras karyawan (misalnya Housekeeping atau Kitchen Staff) tidak luput dari perhatian, menaikkan moral dan engagement.

3. Leadership dan Komunikasi yang Transparan

Kepemimpinan yang buruk adalah penyebab utama turnover tinggi.

  • Kepemimpinan Servant Leadership: Mahasiswa diajarkan konsep Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership)—manajer yang mendukung, memberdayakan, dan membantu timnya berkembang, bukan hanya memberi perintah.
  • Mekanisme Feedback dan Komunikasi Dua Arah: Lulusan dilatih menciptakan saluran komunikasi terbuka di mana karyawan merasa aman untuk memberikan feedback tanpa takut diintimidasi, membantu manajemen mengidentifikasi masalah operasional sebelum menjadi krisis turnover.
Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *