Pasar wisata internasional kini bangkit kembali, dan Indonesia, termasuk Jawa Tengah dengan potensi budaya dan alamnya yang kaya, menjadi destinasi incaran. Namun, ada tembok penghalang yang sering diabaikan: keterbatasan kemampuan berbahasa asing dan pemahaman komunikasi lintas budaya (cross-cultural communication) pada tenaga kerja hospitality lokal. Permasalahan hari ini adalah: untuk menarik wisatawan dari Eropa, Tiongkok, atau Timur Tengah, service excellence harus diiringi dengan kemampuan melayani dalam bahasa dan etika budaya mereka.
Akademi Perhotelan dan Pariwisata (APHTI) Banyumas menyadari bahwa keterampilan bahasa asing bukan lagi nilai tambah, melainkan kompetensi wajib bagi Perwira Hospitality. Kami berkomitmen menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai Bahasa Inggris sebagai lingua franca, tetapi juga memiliki kepekaan budaya tinggi, memastikan setiap wisatawan asing merasa dihargai dan dilayani dengan standar internasional.
Tiga Strategi APHTI dalam Membangun Profesional Multibahasa
APHTI Banyumas mengintegrasikan pelatihan bahasa dan budaya secara intensif ke dalam kurikulum vokasi:
1. Pelatihan Bahasa Asing Fungsional Berbasis Skenario Industri
Fokus pelatihan adalah bahasa yang langsung dapat diterapkan dalam situasi kerja nyata di hotel, restoran, dan tour agency.
- Bahasa Inggris Khusus (English for Hospitality): Mahasiswa dilatih menguasai terminologi khusus untuk Front Office, F&B Service, dan pemandu wisata, seperti menangani reservasi, menjelaskan menu, dan mengatasi keluhan dalam Bahasa Inggris yang lancar dan profesional.
- Pengenalan Bahasa Tambahan: Program APHTI mendorong pengenalan dasar-dasar bahasa asing tambahan yang relevan dengan pasar utama pariwisata Indonesia, seperti Bahasa Mandarin atau Bahasa Jepang, untuk memberikan keunggulan kompetitif.
2. Kompetensi Komunikasi Lintas Budaya (Cultural Intelligence)
Pelayanan sempurna berarti memahami kebiasaan, preferensi, dan pantangan budaya tamu.
- Modul Etiket Global: Mahasiswa diajarkan tentang etiket, gestur, dan norma sosial dari berbagai negara (misalnya, cara menyapa tamu dari Timur Tengah, etika memberi tip di Eropa, atau pentingnya menghindari angka tertentu bagi tamu Asia Timur).
- Simulasi Role-Playing: Mengadakan simulasi role-playing dengan skenario budaya yang beragam, melatih siswa untuk bereaksi dengan cepat, profesional, dan hormat terhadap perbedaan budaya.
3. Pemanfaatan Teknologi Penerjemah dalam Pelayanan Cepat
Meskipun penguasaan bahasa wajib, teknologi digunakan untuk mengatasi kendala bahasa yang sangat spesifik.
- Penggunaan Aplikasi Translation Tools: Lulusan dilatih menggunakan aplikasi terjemahan dan AI language tools secara bijak dan profesional sebagai alat bantu (back-up) komunikasi di area Front Office, memastikan tidak ada miskomunikasi terkait informasi kritis.
- Literasi Travel Pattern: Membekali lulusan dengan pemahaman tentang tren perjalanan global dan profil wisatawan dari berbagai negara, membantu mereka mengantisipasi kebutuhan dan preferensi tamu sebelum tamu tersebut bertanya.
Penutup: Lulusan APHTI, Duta Pariwisata yang Menguasai Dunia
Memilih APHTI Banyumas berarti memilih karir di mana Anda tidak hanya menguasai skill teknis, tetapi juga menjadi komunikator ulung yang mampu menjembatani perbedaan budaya. Lulusan kami siap menjadi Duta Pariwisata yang profesional, fasih multibahasa, dan cerdas budaya, membuka pintu Banyumas ke wisatawan dari seluruh penjuru dunia.


Leave a Reply