Pertanian modern menghadapi tantangan besar: bagaimana meningkatkan produksi pangan sambil meminimalkan limbah dan kerusakan lingkungan. Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System atau IFS) adalah solusi cerdas yang diajarkan di APHTI Banyumas. IFS adalah filosofi di mana berbagai komponen pertanian (tanaman, ternak, perikanan) disatukan dalam satu siklus yang saling menguntungkan, sehingga limbah dari satu sektor menjadi input bagi sektor lainnya .
Akademi Pertanian HKTI Banyumas berkomitmen mencetak Agripreneur yang mampu merancang dan mengelola siklus IFS, mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
1. Prinsip Dasar Nol Limbah (Zero Waste)
IFS beroperasi dengan prinsip bahwa semua produk sampingan harus dimanfaatkan, menciptakan efisiensi sumber daya yang maksimal:
- Pakan Ternak dari Limbah Tanaman: Daun atau sisa batang tanaman pangan (seperti jagung atau padi) diolah menjadi pakan tambahan (silase) yang berkualitas untuk ternak.
- Pupuk dari Kotoran Ternak: Kotoran ternak (sapi, kambing, ayam) diolah menjadi pupuk organik (kompos) atau pupuk cair yang sangat kaya nutrisi untuk tanaman dan kolam ikan.
- Air Limbah Ikan: Air dari budidaya ikan (aquaculture) yang kaya amonia diolah menjadi pupuk untuk sistem hidroponik, yang kemudian airnya kembali jernih dan digunakan lagi untuk kolam (aquaponics).
2. Model Agribisnis Terpadu di Lahan Vokasi
Mahasiswa APHTI Banyumas tidak hanya mempelajari IFS secara teori, tetapi juga mempraktikkannya langsung di lahan kampus, dengan fokus pada model yang relevan di Banyumas:
- Integrasi Padi-Ikan (Mina Padi): Memanfaatkan sawah sebagai tempat budidaya ikan. Ikan mendapat makanan alami dan berlindung, sementara ikan membersihkan gulma dan menghasilkan pupuk alami untuk padi.
- Biogas dari Kotoran Ternak: Mengolah kotoran ternak menjadi gas metana (biogas) sebagai sumber energi untuk memasak atau listrik, menciptakan kemandirian energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
- Pertanian Berjenjang: Merancang sistem budidaya yang memanfaatkan ruang secara vertikal (misalnya, ternak di bawah, tanaman buah/sayur di atas), memaksimalkan lahan sempit.
3. Keunggulan Kompetitif Agripreneur APHTI
Lulusan yang mahir dalam IFS memiliki nilai jual tinggi karena mereka:
- Menghemat Biaya Operasional: Kebutuhan pupuk dan pakan sintetis berkurang drastis karena diproduksi sendiri di dalam sistem.
- Memiliki Produk Diversifikasi: Selain hasil panen utama, mereka juga menjual produk sampingan (pupuk organik, biogas, atau hasil ternak), menciptakan berbagai sumber pendapatan yang stabil.
- Ramah Lingkungan: Praktik pertanian yang minim limbah kimia dan emisi, menjawab tuntutan pasar global akan produk pangan berkelanjutan.
APHTI Banyumas membekali Anda menjadi manajer agribisnis yang visioner, yang melihat limbah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai peluang usaha baru.


Leave a Reply