Indonesia sedang berjuang mati-matian menghadapi ancaman krisis pangan yang kian nyata, di mana harga beras melambung, lahan sawah menyusut, dan ketergantungan impor membuat negara kita rentan. Di tengah situasi seperti ini, lembaga vokasi pertanian seperti Akademi Pertanian HKTI Banyumas punya peran krusial untuk melahirkan generasi petani yang tidak lagi sekadar bertahan, tapi mampu memimpin perubahan menuju ketahanan pangan nasional.
Lahan Sawah Hilang, Produksi Melambung
Setiap hari, ratusan hektar lahan pertanian diubah menjadi pabrik, perumahan, dan infrastruktur kota—fenomena yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan makin parah di 2025. Akibatnya, produksi beras nasional terus menurun sementara permintaan melonjak karena populasi yang terus bertambah, ditambah pola konsumsi yang bergeser ke makanan cepat saji impor. Petani tradisional pun kesulitan bersaing karena biaya pupuk kimia mahal, cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, dan minimnya akses ke teknologi sederhana seperti irigasi pintar atau varietas benih unggul.
Bukan rahasia lagi kalau banyak anak muda ogah terjun ke pertanian, melihatnya sebagai pekerjaan kotor dan tidak menjanjikan, padahal justru di sinilah peluang besar untuk wirausaha hijau.
Dampak El Nino dan Perubahan Iklim yang Tak Terelakkan
Tahun 2025 menjadi tahun ujian berat bagi petani Indonesia dengan gelombang El Nino yang berkepanjangan, menyebabkan kekeringan di Jawa Tengah hingga Sumatera, dan banjir bandang di daerah lain. Hasil panen gagal, stok gudang menipis, dan harga gabah anjlok karena pasokan berlebih di musim sebelumnya—siklus yang bikin petani kecil makin terpuruk. Belum lagi soal degradasi tanah akibat pemakaian pupuk berlebih selama puluhan tahun, membuat lahan jadi keras dan hasil panen menurun drastis dari tahun ke tahun.
Pemerintah memang sudah gerak cepat dengan program food estate dan subsidi benih, tapi tanpa tenaga ahli di lapangan yang paham agroteknologi modern, upaya itu sering mandek di tengah jalan.
Generasi Muda yang Enam dari Pertanian, Ketergantungan Impor Makin Parah
Lebih dari 70% petani Indonesia sudah berusia di atas 45 tahun, sementara generasi muda lebih memilih migrasi ke kota demi gaji bulanan tetap. Akibatnya, pengetahuan pertanian tradisional punah perlahan, digantikan oleh impor beras, jagung, hingga sayur mayur dari Thailand dan Vietnam yang harganya makin mahal karena fluktuasi rupiah. Di Banyumas sendiri, petani lokal merasakan getirnya: panen bawang dan cabai turun 30% gara-gara hama baru yang belum ada obatnya, sementara pasar dibanjiri produk impor murah.
Tanpa regenerasi petani muda yang melek bisnis dan teknologi, Indonesia berisiko jadi importir pangan permanen, lemah di meja diplomasi global soal ketahanan pangan.
APHTI Banyumas: Melahirkan Petani Pintar yang Siap Beraksi
Di sinilah Akademi Pertanian HKTI Banyumas masuk sebagai jawaban konkret, dengan kurikulum yang langsung turun ke lapangan: dari budidaya tanaman cerdas berbasis IoT hingga manajemen agribisnis yang bikin petani kecil bisa untung besar. Mahasiswa tidak cuma belajar teori di kelas, tapi langsung magang di kebun mitra, bantu petani terapkan pupuk organik fermentasi atau sistem irigasi tetes hemat air—teknologi sederhana yang sudah terbukti naikkan hasil panen hingga 40%.
Lewat program inovasi dan penelitian, kampus ini dorong mahasiswa kembangkan solusi lokal seperti varietas padi tahan kekeringan atau aplikasi monitoring hama via ponsel, yang langsung diuji coba bersama UMKM tani di Banyumas. Kemitraan dengan pemerintah daerah dan industri juga buka pintu kerja langsung bagi lulusan, sekaligus jadi jembatan pemberdayaan petani tua agar tidak punah pengetahuannya.
Menuju Pertanian Mandiri: Dari Krisis ke Peluang Emas
Krisis pangan hari ini sebenarnya peluang emas bagi generasi muda untuk ubah citra pertanian dari “pekerjaan miskin” jadi “bisnis hijau masa depan”. Dengan lulusan APHTI Banyumas yang siap turun tangan—paham digital farming, pemasaran online hasil tani, dan pengolahan pasca panen—kita bisa bangun rantai pasok pertanian yang kuat dari desa hingga ekspor.
Bayangkan kalau ribuan petani muda seperti alumni Siti Rahmawati atau Agus Prasetyo yang disebut di testimoni kampus, menyebar ke seluruh pelosok: lahan kembali hijau, stok pangan aman, dan Indonesia mandiri secara pangan. Itulah yang sedang dibangun APHTI Banyumas—bukan sekadar sekolah, tapi pabrik pembuat perubahan di sektor pertanian yang selama ini terabaikan.


Leave a Reply