Alih Fungsi Lahan hingga Iklim Ekstrem: Akademi Pertanian HKTI Banyumas Menjawab Krisis Pertanian Indonesia

Wakil Menteri Pertanian menegaskan lahan pertanian hilang setiap hari akibat alih fungsi non-pertanian, sementara perubahan iklim menggerus produktivitas dengan kemarau panjang, banjir ekstrem, dan salinitas tanah meningkat di pesisir, memicu gagal panen masif. Namun soal regenerasi petani lebih serius: angkatan kerja pertanian terus menua, anak muda enggan bertani, dan keahlian teknologi pertanian-digital masih langka, mengancam keberlanjutan pangan nasional di tengah pertumbuhan penduduk eksplosif.

Tantangan Tripel: Lahan, Iklim, dan Regenerasi Muda

Krisis lahan paling mencekik: 30 tahun terakhir, Indonesia kehilangan 10 juta hektar sawah, kini tinggal 7 juta hektar, sementara kebutuhan pangan meningkat dengan pertumbuhan penduduk 3 juta jiwa per tahun. Perubahan iklim memperburuk dengan pola hujan kacau (musim kering panjang, hujan deras menggenangi), suhu naik mempercepat evapotranspirasi dan serangan hama, serta air laut masuk ke 1,28 juta hektar persawahan pesisir membuat tanah asin dan tandus. Terparah: petani rata-rata berusia 56 tahun, regenerasi melambat, sementara Gen Z lebih tertarik kota—mendesak inovasi dan kemitraan dengan universitas vokasi untuk transformasi petani muda berbasis teknologi.

APHTI Banyumas: Gerkop Solusi Pertanian Masa Depan

Akademi Pertanian HKTI Banyumas hadir sebagai pelopor transformasi dengan tiga strategi konkret menjawab krisis. Pertama, Pendidikan Praktik Lapangan Terintegrasi: kurikulum berbasis agroteknologi modern latih lulusan kuasai vertikal farming, hidroponik urban, pupuk organik ramah lingkungan, dan adaptasi iklim—semua langsung dikerjakan di lahan mitra petani sehingga mahasiswa siap kerja dan minat tinggal di desa. Kedua, Riset Terapan Tepat Guna: Program inovasi penelitian kembangkan varietas tanaman tahan panas-kekeringan, teknik pengelolaan air efisien, dan sistem pertanian presisi berbasis digital yang langsung diterapkan UMKM petani, bukan hanya laporan akademis. Ketiga, Kemitraan Petani-Industri Aktif: Dosen Pembina Penelitian seperti Dr. Lestari Wulandari membimbing mahasiswa turun langsung ke kelompok tani, perusahaan agribisnis, dan pemerintah daerah, menciptakan ekosistem kolaborasi yang mencegah brain drain—pemuda dapat gaji layak sambil berkontribusi.

Respons Strategis yang Nyata

  • Petani Digital Native: Ajarkan agronomi plus e-commerce, sehingga lulusan tidak hanya berkebun tapi juga menjual langsung ke konsumen via platform digital, kurangi ketergantungan tengkulak.
  • Climate-Smart Farming: Latih adaptasi iklim ekstrem—varietas tahan, efisiensi air, mulsa, dan rotasi tanam—agar petani tetap produktif meski cuaca gila.
  • Agribisnis Menguntungkan: Bimbing mahasiswa kembangkan nilai tambah: pupuk organik, agro-tourism (wisata panen), atau brand lokal, sehingga petani dapat pendapatan berkali lipat dari komoditas mentah saja.

Dengan Akademi Pertanian HKTI Banyumas sebagai jembatan inovasi, generasi muda petani Indonesia bisa menjadi aktor solusi krisis pangan—menghentikan alih fungsi lahan, adaptasi iklim ekstrem, dan membangun pertanian mandiri berdaya saing global.

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *